being happy
MERENTAS JALAN KEBAHAGIAAN
Bahagia? Setiap kita mempunyai arti sendiri mengenai kata bahagia. Ada yang mengartikan bahagia ketika semua keinginannya tercapai, bahagia jika bisa membuat orangtua senang, bahagia jika masuk surga, dan lain-lain. Demi satu kata ini orang mau melakukan apa saja. Untuk bahagia secara duniawi, manusia bisa menghalalkan segala upaya dan menggadaikan jiwanya pada iblis.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sumber kebahagiaan hidup adalah Allah. Bersama dengan Allah segala sesuatu yang kita jalani akan menjadi kebahagiaan, tidak peduli apakah itu kesulitan ataupun kemudahan. Kesulitan dan kesedihan sebesar apapun akan hilang dengan kesabaran dan ikhtiar tiada henti. Bersabar mengajarkan kita untuk memandang ujian dengan cara yang benar. Ujian bukan untuk diratapi, dijadikan alasan kemarahan dan pelarian diri. Namun ia ada untuk diambil hikmahnya, membersihkan dosa “ tidak ada sesuatu yang menimpa seorang muslim baik itu berupa kesedihan, gundah gulana, keletihan, penderitaan atau tertusuk suri sekalipun, kecuali pasti Allah menghapus dengannya dosa-dosanya ( HR. Bukhari)” dan meninggikan posisi kita dimata Allah “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) QS. 84:19.
Menanamkan sabar akan memberikan ketenangan jiwa. Ketenangan bahwa kita tidak sendiri, Allah mendukung sepenuhnya dan segala tangis pedih akan digantikan dengan surga, balasan yang lebih baik dari dunia dan segala isinya. Tidak murah bukan, Allah membeli kesabaran kita? Maka tingkatkan kualitas kesabaran yang bersih dari keluh kesah.
Jika sabar sudah kita maknai maka tinggal ikhtiar yang harus kita penuhi. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bangkit dari keterpurukan dan mengatasi ujian. Jangan pernah berputus asa terhadap kesulitan yang menghadang, karena pertolongan Allah begitu dekat. Kadang diri kita sendiri lah yang mendorong kita untuk berputus asa dan larut dalam kesedihan, bukan hidup yang lantas mendorong kita kearah sana. Menenggelamkan diri dalam keputus asaan pada akhirnya akan membuat keputus asaan menjadi zona nyaman kita. Sudikah kita menjadi orang-orang yang gagal? Tentu tidak. Untuk itu jangan pernah berhenti berjuang dan meneteskan segenap peluh dan tangis. Setelah itu, biarkan Allah menilai segala upaya yang telah kita lakukan.
Ujian yang datang tidak hanya berupa kesulitan namun juga tersamar dengan diberikannya kemudahan. Begitu banyak kelapangan, kenikmatan, kemudahan yang luput kita syukuri. Melalui kenikmatan hidup, Allah hendak menguji kita, sejauh mana rasa syukur itu selalu kita lantunkan. Sudah berapa banyak yang kita syukuri hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini? Kadang kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan, sampai melupakan bahwa sumber kebahagiaan sejati lataknya ada di jiwa kita, bukan pada hal materi semata. Merasa cukup dengan yang Allah berikan, akan membuat jiwa kita tenang. Bersama dengan Allah segala sesuatu yang kita dapatkan menjadi lebih nikmat. Dan kenikmatan itu hanya akan menjadi kesedihan jika tidak dimaknai bersama Allah, jika kita tidak mensyukurinya. Selalu lipatgandakan kebahagiaan kita dengan bersyukur. Namun, merasa cukup dengan yang Allah berikan, tidak lantas menahan kita untuk berusaha lebih. Bersyukur dengan rizki yang diberikan, tidak lantas menghambat kita untuk berusaha membuka peluang rizki yang lebih baik. Begitulah, ikhtiar yang akan selalu menyertai sabar dan syukur kita.
Mari terus tingkatkan sabar dan syukur kita dan raih kebahagiaan hanya bersama dengan Allah. Karena sebenarnya kebahagiaan dapat mudah kita raih ketika diri kita menginginkan dan berusaha untuk bahagia.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home